Blogger Widgets Ariantika Eka Puspitasari: PANCASILA Blogger Widgets

Minggu, 07 Desember 2014

PANCASILA




PANCASILA DALAM KONTEKS SEJARAH PERJUANGAN BANGSA INDONESIA

Kasus: Jepang, Belanda, VOC, dan Kerajaan


KELOMPOK 1 (Iim, Ariantika, Enia, Okviana)



KASUS JEPANG
1.      Perbudakan Seksual yang Brutal sebagai Kejahatan Perang


Jugun Ianfu adalah istilah Jepang terhadap perempuan penghibur tentara kekaisaran Jepang dimasa perang Asia Pasifik, istilah asing lainnya adalah Comfort Women. Pada kenyataannya Jugun Ianfu bukan merupakan perempuan penghibur tetapi perbudakan seksual yang brutal, terencana, serta dianggap masyarakat internasional sebagai kejahatan perang. Diperkirakan 200 sampai 400 ribu perempuan Asia berusia 13 hingga 25 tahun dipaksa menjadi budak seks tentara Jepang
*Bagaimana mereka direkrut?
- Mereka direkrut dengan cara halus seperti dijanjikan sekolah gratis, pekerjaan sebagai pemain sandiwara, pekerja rumah tangga, pelayan rumah makan dan juga dengan cara kasar dengan menteror disertai tindak kekerasan, menculik bahkan memperkosa di depan keluarga.
*Siapakah Jugun Ianfu Indonesia?
- Sebagian besar perempuan-perempuan yang berasal dari pulau Jawa yang dijadikan Jugun Ianfu seperti Mardiyem, Sumirah, Emah Kastimah, Sri Sukanti, hanyalah sebagian kecil Jugun Ianfu Indonesia yang bisa diidentifikasi. Masih banyak Jugun Ianfu Indonesia yang hidup maupun sudah meninggal dunia yang belum terlacak keberadaannya.
*Bagaimana mereka diperlakukan?
- Mereka diperkosa dan disiksa secara kejam. Dipaksa melayani kebutuhan seksual tentara Jepang sebanyak 10 hingga 20 orang siang dan malam serta dibiarkan kelaparan. Kemudian di aborsi secara paksa apabila hamil. Banyak perempuan mati dalam Ianjo karena sakit, bunuh diri atau disiksa sampai mati.
*Siapa yang bertanggungjawab atas sistem perbudakan terencana ini?
- Kaisar Hirohito merupakan pemberi restu sistem Jugun Ianfu ini diterapkan di seluruh Asia Pasifik. Para pelaksana di lapangan adalah para petinggi militer yang memberi komando perang. Maka saat ini pihak yang harus bertanggung jawab atas kejahatan kemanusiaan ini adalah pemerintah Jepang.

*Bagaimana sikap pemerintah Jepang masa kini?
- Pemerintah Jepang masa kini tidak mengakui keterlibatannya dalam praktek perbudakan seksual di masa perang Asia Pasifik. Pemerintah Jepang berdalih Jugun Ianfu dikelola dan dioperasikan oleh pihak swasta. Pemerintah Jepang menolak meminta maaf secara resmi kepada para Jugun Ianfu. Kendatipun demikian Juli 1995 Perdana Menteri Tomiichi Murayama pernah menyiratkan permintaan maaf secara pribadi, tetapi tidak mewakili negara Jepang. Tahun 1993 Yohei Kono mewakili sekretaris kabinet Jepang memberikan pernyataan empatinya kepada korban Jugun Ianfu. Namun pada Maret 2007 Perdana Menteri Shinzo Abe mengeluarkan pernyataan yang kontroversial dengan menyanggah keterlibatan militer Jepang dalam praktek sistem perbudakan seksual.

*Bagaimana sikap masyarakat Indonesia?
- Banyak masyarakat yang merendahkan, serta menyisihkan para korban dari pergaulan sosial. Kasus Jugun Ianfu dianggap sekedar “kecelakaan” perang dengan memakai istilah “ransum Jepang”. Mencap para korban sebagai pelacur komersial. Banyak juga pihak-pihak oportunis yang berkedok membela kepentingan Jugun Ianfu dan mengatasnamakan proyek kemanusiaan, namum mereka adalah calo yang mengkorupsi dana santunan yang seharusnya diterima langsung para korban.

*Apa yang dituntut para korban?
- 1. Pemerintah Jepang masa kini harus mengakui secara resmi dan meminta maaf bahwa perbudakan seksual dilakukan secara sengaja oleh negara Jepang selama perang Asia Pasifik 1931-1945.
2. Para korban diberi santunan sebagai korban perang untuk kehidupan yang sudah dihancurkan oleh militer Jepang.
3. Menuntut dimasukkannya sejarah gelap Jugun Ianfu ke dalam kurikulum sekolah di Jepang agar generasi muda Jepang mengetahui kebenaran sejarah Jepang.



KASUS BELANDA

2.     Genosida di Kepulauan Banda

Puncak kebencian orang Banda terhadap Belanda terjadi pada tahun 1609, di mana Gubernur Belanda untuk Maluku bersama 40 stafnya dibunuh.

Sementara itu, Inggris mendirikan pos dagang di Pulau Ai dan Run. Perang memperebutkan kekuasaan atas wilayah Banda antara Inggris dan Belanda terjadi tahun 1615. Dengan kekuatan 900 tentara, Belanda menyerang pos dagang Inggris di Pulai Ai. Namun kemudian Inggris berhasil memukul balik dan membunuh 200 tentara Belanda di Pulai Ai. Setahun kemudian Belanda menyerang lagi Inggris di Pulau Ai, dan kali ini berhasil mematahkan perlawanan Inggris, di mana kemudian seluruh tentara Inggris dibantai oleh tentara Belanda.


Pada 8 Mei 1621 dilakukan pembantaian secara besar-besaran terhadap para pemuka dan rakyat Banda. Penduduk kepulauan Banda yang tidak tewas, ditangkap dan mereka yang tidak mau menyerah kepada Belanda, melompat dari tebing yang curam di pantai sehingga tewas. Semua pimpinan rakyat Banda yang tidak mau bekerjasama dengan Belanda dijatuhi hukuman mati yang segera dilaksanakan. Mengenai pelaksanaan eksekusi terhadap pimpinan rakyat Banda pada 8 Mei 1621, Letnan (Laut) Nicholas van Waert menulis antara lain[1][1]:

“… Keempatpuluhempat tawanan dibawa ke Benteng Nassau, delapan Orang Kaya (pemuka adat di Banda) dipisahkan dari lainnya, yang dikumpulkan seperti domba. Dengan tangan terikat, mereka dimasukkan ke dalam kerangkeng dari bambu dan dijaga ketat. Mereka dituduh telah berkonspirasi melawan Tuan Jenderal dan telah melanggar perjanjian perdamaian.

Enam serdadu Jepang melaksanakan eksekusi dengan samurai mereka yang tajam. Para pemimpin Banda dipenggal kepalanya kemudian tubuh mereka dibelah empat. Setelah itu menyusul 36 orang lainnya, yang juga dipenggal kepalanya dan tubuhnya dibelah empat. Eksekusi ini sangat mengerikan untuk dilihat. Semua tewas tanpa mengeluarkan suara apa pun, kecuali satu orang yang berkata dalam bahasa Belanda “Tuan-tuan, apakah kalian tidak mengenal belas kasihan”, yang ternyata tidak ada gunanya.

Kejadian yang sangat menakutkan itu membuat kami menjadi bisu. Kepala dan bagian-bagian tubuh orang-orang Banda yang telah dipotong, ditancapkan di ujung bambu dan dipertontonkan. Demikianlah kejadiannya: Hanya Tuhan yang mengetahui siapa yang benar.

Kita semua, sebagai yang menyatakan beragama Kristen, dipenuhi rasa kecemasan melihat bagaimana peristiwa ini berakhir, dan kami merasa tidak sejahtera dengan hal ini ..”.

KASUS VOC

3.     Penipuan Rakyat Indonesia Oleh VOC


Eksperimen untuk menjajah dan menyengsarakan rakyat dalam arti yang sebenarnya, menurut sejarah memang pernah dicoba oleh Jan Pieterszoon Coen, gubernur jenderal VOC tahun 1617 - 1629. Diceritakan bahwa di tahun 1620an VOC mengusir semua penduduk pulau Banda, dibiarkan mati atau dibunuh dalam rangka untuk membuat perkebunan cengkeh dan pala. Jan Pieterszoon Coen berharap bisa menggantikan penduduk ini dengan orang-orangnya Belanda, tetapi usaha ini gagal.

Kasus yang menarik lainnya yang bisa mendukung hipotesa penaklukan penguasa lokal oleh VOC (bukan penjajahan yang menyengsarakan rakyat) sebagai kisah sejarah alternatif adalah kasus kesultanan Banten. Banten yang pada abad 16-17 mempunyai pelabuhan yang merupakan pelabuhan untuk perdagangan lada yang katanya merupakan komoditi yang dicari di Eropa. Banten yang lebih suka pada perdagangan bebas dari pada memberikan monopoli kepada VOC, menghadapi persaingan dengan Batavia yang direbut VOC tahun 1619.

Setelah VOC bubar tahun 1795, Banten baru dilebur ke dalam Republik Batavia, dengan deklarasi yang dikeluarkan oleh Daendels, gubernur jenderal di nusantara tahun 1808 Belanda pada masa itu dibawah pengaruh kekuasaan Kaisar Napoleon dari Prancis.

Mengumpulkan orang untuk dipaksa kerja tanpa dibayar tidak mudah. Lebih mudah dan murah jika dengan imbalan upah. Cara seperti ini masih ada peninggalan-peninggalannya yaitu komunitas Ja-kon, Jawa Kontrak, yang ada di Sumatera Timur dan Suriname. Orang-orang Jawa dikirim sebagai kuli kontrak untuk membuka dan bekerja di perkebunan-perkebunan di Sumatera Timur, New Caledonia dan Suriname. Bukan sebagai pekerja rodi. Sejarah versi resmi akan mengalami kesulitan menjelaskan penyengsaraan rakyat oleh VOC atau pemerintah Belanda melalui kerja rodi yang tidak dibayar.

Sanggahan terhadap teori penjajahan yang menyengsarakan kedua adalah bahwa dengan sistem keuangan yang ada, tidak dimungkinkan penerapan inflasi secara effektif, katakanlah di atas 10% per tahun. Menyinggung mengenai inflasi, sejak kedatangannya, VOC Belanda menggunakan uang perak, bukan uang kertas.

Besar kemungkinannya bahwa pedagang-pedagang VOC Kompeni Belanda tidak akan mudah membayar uang takut, upeti, bea-cukai kepada penguasa setempat. Ini akan menyinggung harga diri para penguasa setempat.




KASUS KERAJAAN

4.     Runtuhnya Kerajaan Majapahit

Kelemahan pemerintahan raja-raja sesudah Hayam Wuruk pada 1369 M merupakan faktor utama membawa kepada kemerosotan dan keruntuhan kerajaan majapahit. Kelemahan pemerintahan untuk mengembangkan dan mempertahankan kerajaan Majapahit menyebabkan keluasan kerajaan majapahit semangkin mengecil. Perkara ini menandakan Majapahit tinggal namanya saja. Majapahit yang tinggal nama keagungannya, setelah seratus tahun selepas Hayam Wuruk kerajaan Majapahit tidak pernah lagi mengembangkan kerajaannya namun sebaliknya, yaitu kerajaan terus jatuh sehingga kehancurnya takluk ditangan Demak.

Melalui kelemahan pemerintah Majapahit menyebabkan wilayah-wilayah kekuasaan majapahit membebaskan diri dan yang lebih menyedihkan lagi, ketika wilayah bawahan Majapahit sendiri yang memusnahnya bukan dari kerajaan luar seperti Thailan.Perkara ini menunjukan betapa rapuhnya kerajaan Majapahit setelah mencapai zaman keemasanya.

Faktor-faktor lain yang menyebabkan keruntuhan Majapahit seperti  pergolakan politik dan perang saudara.  Malalui peperang sesama pemerintah menyebabkan wujudnya kerajaan baru, kerana dibalik kesibukan dalam perang saudara, kerajaan majapahit memberi ruang kepada daerah bawahannya untuk mengukuhkan kedudukanya dan ini dibuktikan dengan pembebasan Palembang dari kekuasaan majapahit.

Pemerintah Palembang ketika itu Paramiswara telah berkeyakinan untuk menbebaskan diri kerana Majapahit tidak lagi berkuasa atas kerajaan Palembang.Sehingga cita-citanya tercapai setelah perpindahannya ke Melaka pada abad ke 15 M.  Islam yang dibawa masuk oleh pedagang dari luar menjadikan agama Hindu mulai pudar dari kalangan penduduk setempat. Perkembangan islam yang tidak mampu disekat oleh pemerintah Majapahit menyababkan agama Hindu hilang di bumi Jawa.

Disamping perubahan dasar luar, hubungan dengan Cina juga menjadi penyebab kemorosotan majapahit. Kerajaan Cina telah mengakui Melaka sebagai satu penguasa di selat Melaka dan memberi perlindungan politik di Asia Tenggara. Maka dengan itu perhatian kerajaan Cina terhadap majapahit  tidak diperkenankan oleh maharaja Cina karena sudah Melaka menjadi pusat enterpot di Asia Tenggara.Perkara ini jelas menunjukan faktor dalam yang di dukung oleh faktor luar yang menyebabkan kemerosotan dan keruntuhan kerajaan majapahit yang berakhir pada tahun 1526 M.




You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Popular Posts