Blogger Widgets Ariantika Eka Puspitasari: 2014 Blogger Widgets

Minggu, 07 Desember 2014

PANCASILA




PANCASILA DALAM KONTEKS SEJARAH PERJUANGAN BANGSA INDONESIA

Kasus: Jepang, Belanda, VOC, dan Kerajaan


KELOMPOK 1 (Iim, Ariantika, Enia, Okviana)



KASUS JEPANG
1.      Perbudakan Seksual yang Brutal sebagai Kejahatan Perang


Jugun Ianfu adalah istilah Jepang terhadap perempuan penghibur tentara kekaisaran Jepang dimasa perang Asia Pasifik, istilah asing lainnya adalah Comfort Women. Pada kenyataannya Jugun Ianfu bukan merupakan perempuan penghibur tetapi perbudakan seksual yang brutal, terencana, serta dianggap masyarakat internasional sebagai kejahatan perang. Diperkirakan 200 sampai 400 ribu perempuan Asia berusia 13 hingga 25 tahun dipaksa menjadi budak seks tentara Jepang
*Bagaimana mereka direkrut?
- Mereka direkrut dengan cara halus seperti dijanjikan sekolah gratis, pekerjaan sebagai pemain sandiwara, pekerja rumah tangga, pelayan rumah makan dan juga dengan cara kasar dengan menteror disertai tindak kekerasan, menculik bahkan memperkosa di depan keluarga.
*Siapakah Jugun Ianfu Indonesia?
- Sebagian besar perempuan-perempuan yang berasal dari pulau Jawa yang dijadikan Jugun Ianfu seperti Mardiyem, Sumirah, Emah Kastimah, Sri Sukanti, hanyalah sebagian kecil Jugun Ianfu Indonesia yang bisa diidentifikasi. Masih banyak Jugun Ianfu Indonesia yang hidup maupun sudah meninggal dunia yang belum terlacak keberadaannya.
*Bagaimana mereka diperlakukan?
- Mereka diperkosa dan disiksa secara kejam. Dipaksa melayani kebutuhan seksual tentara Jepang sebanyak 10 hingga 20 orang siang dan malam serta dibiarkan kelaparan. Kemudian di aborsi secara paksa apabila hamil. Banyak perempuan mati dalam Ianjo karena sakit, bunuh diri atau disiksa sampai mati.
*Siapa yang bertanggungjawab atas sistem perbudakan terencana ini?
- Kaisar Hirohito merupakan pemberi restu sistem Jugun Ianfu ini diterapkan di seluruh Asia Pasifik. Para pelaksana di lapangan adalah para petinggi militer yang memberi komando perang. Maka saat ini pihak yang harus bertanggung jawab atas kejahatan kemanusiaan ini adalah pemerintah Jepang.

*Bagaimana sikap pemerintah Jepang masa kini?
- Pemerintah Jepang masa kini tidak mengakui keterlibatannya dalam praktek perbudakan seksual di masa perang Asia Pasifik. Pemerintah Jepang berdalih Jugun Ianfu dikelola dan dioperasikan oleh pihak swasta. Pemerintah Jepang menolak meminta maaf secara resmi kepada para Jugun Ianfu. Kendatipun demikian Juli 1995 Perdana Menteri Tomiichi Murayama pernah menyiratkan permintaan maaf secara pribadi, tetapi tidak mewakili negara Jepang. Tahun 1993 Yohei Kono mewakili sekretaris kabinet Jepang memberikan pernyataan empatinya kepada korban Jugun Ianfu. Namun pada Maret 2007 Perdana Menteri Shinzo Abe mengeluarkan pernyataan yang kontroversial dengan menyanggah keterlibatan militer Jepang dalam praktek sistem perbudakan seksual.

*Bagaimana sikap masyarakat Indonesia?
- Banyak masyarakat yang merendahkan, serta menyisihkan para korban dari pergaulan sosial. Kasus Jugun Ianfu dianggap sekedar “kecelakaan” perang dengan memakai istilah “ransum Jepang”. Mencap para korban sebagai pelacur komersial. Banyak juga pihak-pihak oportunis yang berkedok membela kepentingan Jugun Ianfu dan mengatasnamakan proyek kemanusiaan, namum mereka adalah calo yang mengkorupsi dana santunan yang seharusnya diterima langsung para korban.

*Apa yang dituntut para korban?
- 1. Pemerintah Jepang masa kini harus mengakui secara resmi dan meminta maaf bahwa perbudakan seksual dilakukan secara sengaja oleh negara Jepang selama perang Asia Pasifik 1931-1945.
2. Para korban diberi santunan sebagai korban perang untuk kehidupan yang sudah dihancurkan oleh militer Jepang.
3. Menuntut dimasukkannya sejarah gelap Jugun Ianfu ke dalam kurikulum sekolah di Jepang agar generasi muda Jepang mengetahui kebenaran sejarah Jepang.



KASUS BELANDA

2.     Genosida di Kepulauan Banda

Puncak kebencian orang Banda terhadap Belanda terjadi pada tahun 1609, di mana Gubernur Belanda untuk Maluku bersama 40 stafnya dibunuh.

Sementara itu, Inggris mendirikan pos dagang di Pulau Ai dan Run. Perang memperebutkan kekuasaan atas wilayah Banda antara Inggris dan Belanda terjadi tahun 1615. Dengan kekuatan 900 tentara, Belanda menyerang pos dagang Inggris di Pulai Ai. Namun kemudian Inggris berhasil memukul balik dan membunuh 200 tentara Belanda di Pulai Ai. Setahun kemudian Belanda menyerang lagi Inggris di Pulau Ai, dan kali ini berhasil mematahkan perlawanan Inggris, di mana kemudian seluruh tentara Inggris dibantai oleh tentara Belanda.


Pada 8 Mei 1621 dilakukan pembantaian secara besar-besaran terhadap para pemuka dan rakyat Banda. Penduduk kepulauan Banda yang tidak tewas, ditangkap dan mereka yang tidak mau menyerah kepada Belanda, melompat dari tebing yang curam di pantai sehingga tewas. Semua pimpinan rakyat Banda yang tidak mau bekerjasama dengan Belanda dijatuhi hukuman mati yang segera dilaksanakan. Mengenai pelaksanaan eksekusi terhadap pimpinan rakyat Banda pada 8 Mei 1621, Letnan (Laut) Nicholas van Waert menulis antara lain[1][1]:

“… Keempatpuluhempat tawanan dibawa ke Benteng Nassau, delapan Orang Kaya (pemuka adat di Banda) dipisahkan dari lainnya, yang dikumpulkan seperti domba. Dengan tangan terikat, mereka dimasukkan ke dalam kerangkeng dari bambu dan dijaga ketat. Mereka dituduh telah berkonspirasi melawan Tuan Jenderal dan telah melanggar perjanjian perdamaian.

Enam serdadu Jepang melaksanakan eksekusi dengan samurai mereka yang tajam. Para pemimpin Banda dipenggal kepalanya kemudian tubuh mereka dibelah empat. Setelah itu menyusul 36 orang lainnya, yang juga dipenggal kepalanya dan tubuhnya dibelah empat. Eksekusi ini sangat mengerikan untuk dilihat. Semua tewas tanpa mengeluarkan suara apa pun, kecuali satu orang yang berkata dalam bahasa Belanda “Tuan-tuan, apakah kalian tidak mengenal belas kasihan”, yang ternyata tidak ada gunanya.

Kejadian yang sangat menakutkan itu membuat kami menjadi bisu. Kepala dan bagian-bagian tubuh orang-orang Banda yang telah dipotong, ditancapkan di ujung bambu dan dipertontonkan. Demikianlah kejadiannya: Hanya Tuhan yang mengetahui siapa yang benar.

Kita semua, sebagai yang menyatakan beragama Kristen, dipenuhi rasa kecemasan melihat bagaimana peristiwa ini berakhir, dan kami merasa tidak sejahtera dengan hal ini ..”.

KASUS VOC

3.     Penipuan Rakyat Indonesia Oleh VOC


Eksperimen untuk menjajah dan menyengsarakan rakyat dalam arti yang sebenarnya, menurut sejarah memang pernah dicoba oleh Jan Pieterszoon Coen, gubernur jenderal VOC tahun 1617 - 1629. Diceritakan bahwa di tahun 1620an VOC mengusir semua penduduk pulau Banda, dibiarkan mati atau dibunuh dalam rangka untuk membuat perkebunan cengkeh dan pala. Jan Pieterszoon Coen berharap bisa menggantikan penduduk ini dengan orang-orangnya Belanda, tetapi usaha ini gagal.

Kasus yang menarik lainnya yang bisa mendukung hipotesa penaklukan penguasa lokal oleh VOC (bukan penjajahan yang menyengsarakan rakyat) sebagai kisah sejarah alternatif adalah kasus kesultanan Banten. Banten yang pada abad 16-17 mempunyai pelabuhan yang merupakan pelabuhan untuk perdagangan lada yang katanya merupakan komoditi yang dicari di Eropa. Banten yang lebih suka pada perdagangan bebas dari pada memberikan monopoli kepada VOC, menghadapi persaingan dengan Batavia yang direbut VOC tahun 1619.

Setelah VOC bubar tahun 1795, Banten baru dilebur ke dalam Republik Batavia, dengan deklarasi yang dikeluarkan oleh Daendels, gubernur jenderal di nusantara tahun 1808 Belanda pada masa itu dibawah pengaruh kekuasaan Kaisar Napoleon dari Prancis.

Mengumpulkan orang untuk dipaksa kerja tanpa dibayar tidak mudah. Lebih mudah dan murah jika dengan imbalan upah. Cara seperti ini masih ada peninggalan-peninggalannya yaitu komunitas Ja-kon, Jawa Kontrak, yang ada di Sumatera Timur dan Suriname. Orang-orang Jawa dikirim sebagai kuli kontrak untuk membuka dan bekerja di perkebunan-perkebunan di Sumatera Timur, New Caledonia dan Suriname. Bukan sebagai pekerja rodi. Sejarah versi resmi akan mengalami kesulitan menjelaskan penyengsaraan rakyat oleh VOC atau pemerintah Belanda melalui kerja rodi yang tidak dibayar.

Sanggahan terhadap teori penjajahan yang menyengsarakan kedua adalah bahwa dengan sistem keuangan yang ada, tidak dimungkinkan penerapan inflasi secara effektif, katakanlah di atas 10% per tahun. Menyinggung mengenai inflasi, sejak kedatangannya, VOC Belanda menggunakan uang perak, bukan uang kertas.

Besar kemungkinannya bahwa pedagang-pedagang VOC Kompeni Belanda tidak akan mudah membayar uang takut, upeti, bea-cukai kepada penguasa setempat. Ini akan menyinggung harga diri para penguasa setempat.




KASUS KERAJAAN

4.     Runtuhnya Kerajaan Majapahit

Kelemahan pemerintahan raja-raja sesudah Hayam Wuruk pada 1369 M merupakan faktor utama membawa kepada kemerosotan dan keruntuhan kerajaan majapahit. Kelemahan pemerintahan untuk mengembangkan dan mempertahankan kerajaan Majapahit menyebabkan keluasan kerajaan majapahit semangkin mengecil. Perkara ini menandakan Majapahit tinggal namanya saja. Majapahit yang tinggal nama keagungannya, setelah seratus tahun selepas Hayam Wuruk kerajaan Majapahit tidak pernah lagi mengembangkan kerajaannya namun sebaliknya, yaitu kerajaan terus jatuh sehingga kehancurnya takluk ditangan Demak.

Melalui kelemahan pemerintah Majapahit menyebabkan wilayah-wilayah kekuasaan majapahit membebaskan diri dan yang lebih menyedihkan lagi, ketika wilayah bawahan Majapahit sendiri yang memusnahnya bukan dari kerajaan luar seperti Thailan.Perkara ini menunjukan betapa rapuhnya kerajaan Majapahit setelah mencapai zaman keemasanya.

Faktor-faktor lain yang menyebabkan keruntuhan Majapahit seperti  pergolakan politik dan perang saudara.  Malalui peperang sesama pemerintah menyebabkan wujudnya kerajaan baru, kerana dibalik kesibukan dalam perang saudara, kerajaan majapahit memberi ruang kepada daerah bawahannya untuk mengukuhkan kedudukanya dan ini dibuktikan dengan pembebasan Palembang dari kekuasaan majapahit.

Pemerintah Palembang ketika itu Paramiswara telah berkeyakinan untuk menbebaskan diri kerana Majapahit tidak lagi berkuasa atas kerajaan Palembang.Sehingga cita-citanya tercapai setelah perpindahannya ke Melaka pada abad ke 15 M.  Islam yang dibawa masuk oleh pedagang dari luar menjadikan agama Hindu mulai pudar dari kalangan penduduk setempat. Perkembangan islam yang tidak mampu disekat oleh pemerintah Majapahit menyababkan agama Hindu hilang di bumi Jawa.

Disamping perubahan dasar luar, hubungan dengan Cina juga menjadi penyebab kemorosotan majapahit. Kerajaan Cina telah mengakui Melaka sebagai satu penguasa di selat Melaka dan memberi perlindungan politik di Asia Tenggara. Maka dengan itu perhatian kerajaan Cina terhadap majapahit  tidak diperkenankan oleh maharaja Cina karena sudah Melaka menjadi pusat enterpot di Asia Tenggara.Perkara ini jelas menunjukan faktor dalam yang di dukung oleh faktor luar yang menyebabkan kemerosotan dan keruntuhan kerajaan majapahit yang berakhir pada tahun 1526 M.




BAHASA INDONESIA


PERAWAT ABDI NEGARA

Tugas Individu
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia


Disusun Oleh :

Ariantika Eka Puspitasari
1410701033


Jurusan DIII-Keperawatan
FIKES UPNVJ
Jakarta 2014



KATA PENGANTAR


            Puji dan syukur Penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan petunjuk dan pertolongan serta kekuatan sehingga Penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “PERAWAT ABDI NEGARA” ini dengan baik dan tepat waktu. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia. Penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada:
      1.            Dra.Theresia,MM Dosen Mata Kuliah Bahasa Indonesia, atas bimbingannya dan materi yang diberikan.
      2.            Orang Tua, yakni Ayah dan Ibu yang telah memberikan dukungannya baik moril maupun materil.
      3.            Teman-teman serta semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan Makalah ini.

            Penulis menyadari kalau makaalah ini masih jauh dari sempurna. Penulis mengharapkan bimbingan baik berupa saran dan kritik yang membangun, guna penyempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi Pembaca.


Jakarta, Oktober 2014

Penulis


DAFTAR ISI

Kata Pengantar.......................................................................................................1
Daftar Isi.................................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................3
I.1 Latar Belakang........................................................................................3
I.2 Rumusan Masalah...................................................................................3
I.3 Tujuan.....................................................................................................4
I.4 Metode Penulisan....................................................................................4
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................5
II.1 Definisi Perawat....................................................................................5
II.2 Definisi Keluarga dan Masyarakat........................................................5
II.3 Peran Keluarga dalam Keperawatan.....................................................6
II.4 Tujuan Perawatan Kesehatan Kelaurga.................................................8
II.5 Perawatan Sebagai Sarana.....................................................................8
II.6 Peran Perawat dalam Asuhan Perawatan Keluarga ..............................9
II.7 Manfaat Perawat Bagi Masyarakat......................................................10
BAB III PENUTUP
            III.1 Kesimpulan........................................................................................14
            III.2 Saran...................................................................................................15

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................16



BAB I

PENDAHULUAN


I.1        Latar Belakang
            Adapun penulis membuat makalah yang berjudul “PERAWAT ABDI NEGARA” adalah sebagai tugas pelengkap mata kuliah Bahasa Indonesia. Penulis memilih judul tersebut di atas karena pengembangan kesehatan masyarakat di Indonesia yang telah dijalankan selama ini masih memperlihatkan adanya ketidaksesuaian antara pendekatan pembangunan kesehatan dengan lingkungan informal (keluarga), dengan lingkungan formal (sekolah), dan dengan lingkungan nonformal (masyarakat). Oleh karena itu pemerintah maupun pihak-pihak yang memiliki perhatian cukup besar terhadap pembangunan kesehatan lingkungan termasuk perawat spesialis komunitas perlu mencoba mencari terobosan yang kreatif agar program-program tersebut dapat dilaksanakan secara optimal dan berkesinambungan.

Salah satu intervensi keperawatan komunitas di Indonesia yang belum banyak digali adalah kemampuan perawat spesialis komunitas dalam membangun jejaring kemitraan di masyarakat. Padahal, membina hubungan dan bekerja sama dengan elemen lain dalam masyarakat merupakan salah satu pendekatan yang memiliki pengaruh signifikan pada keberhasilan program pengembangan kesehatan masyarakat (Kahan & Goodstadt, 2001). Pada bagian lain Ervin (2002) menegaskan bahwa perawat spesialis komunitas memiliki tugas yang sangat penting untuk membangun dan membina kemitraan dengan anggota masyarakat. Bahkan Ervin mengatakan bahwa kemitraan merupakan tujuan utama dalam konsep masyarakat sebagai sebuah sumber daya yang perlu dioptimalkan (community-as-resource), dimana perawat spesialis komunitas harus memiliki ketrampilan memahami dan bekerja bersama anggota masyarakat dalam menciptakan perubahan di masyarakat.
Di masyarakat, Perawat sangat bermanfaat bagi masyarakat itu sendiri guna dalam meningkatkan derajat kesehatan yang optimal. jadi kehadiran perawat  dimasyarakat sangatlah dibutuhkan.
Melalui makalah ini Penulis ingin membahas bahwa Perawat sangat bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat itu sendiri guna dalam meningkatkan derajat kesehatan yang optimal. Jadi kehadiran perawat  dimasyarakat sangatlah dibutuhkan.

I.2        Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah tersebut, maka rumusan masalah Makalah ini antara lain.
                              1.            Sebutkan definisi dari Perawat?
                              2.            Sebutkan definisi dari keluarga?
                              3.            Sebutkan definisi dari masyarakat?
                              4.            Apa saja peran keluarga dalam keperawatan?
                              5.            Apa saja tujuan perawatan kesehatan kelaurga?
                              6.            Jelaskan yang dmaksud dengan perawatan sebagai sarana?
                              7.            Bagaiman peran perawat dalam asuhan perawatan keluarga?
                              8.            Apa manfaat perawat bagi masyarakat?

I.3        Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk melengkapi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia. Selain itu Penulis menginginkan agar baik penulis maupun pembaca dapat memahami akan untuk mengetahui defenisi dari perawat, untuk mengetahui defenisi dari keluarga dan masyarakat, dan untuk mengetahui manfaat parawat bagi keluarga dan masyarakat.

I.4        Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam pembuatan makalah ini adalah berdaarkan metode daftar pustaka dari beberapa sumber yang dikutip inti-nti masalah.










BAB II

PEMBAHASAN


II.1      Definisi Perawat
Masyarakat awam menganggap perawat adalah orang yang bekerja di rumah sakit dengan mengenakan seragam putih-putih. Ada pula yang mengatakan bahwa perawat adalah orang yang bekerja sebagai pembantu dokter. Penilaian tersebut terjadi karena ketidakpahaman mereka tentang hakikat perawat. Tidak sembarang orang bisa disebut perawat. Berdasarkan keputusan menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 647/Menkes/SK/IV/2000 tentang Registrasi dan Praktik Keperawatan, yang kemudian diperbaharui dengan Kepmenkes RINo.1239/Menkes/SK/XI/2001, dijelaskan bahwa perawat adalah orang yang telah lulus dari pendidikan perawat, baik di dalam maupun di luar negeri, sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Perawat adalah seseorang (seorang profesional) yang mempunyai kemampuan,tanggung jawab dan kewenangan melaksanakan pelayanan/asuhan keperawatan pada berbagai jenjang pelayanan keperawatan.

II.2      Definisi Keluarga dan Masyarakat
A.    Definisi Keluarga
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
B.     Definisi Masyarakat
Masyarakat adalah suatu pranata yang terbentuk karena interaksi antara manusia dan budaya dalam suatu lingkungan. Masyarakat bersifat dinamis dan terdiri atas individu, keluarga, kelompok, dan komunitas yang mempunyai tujuan dan norma sebagai sistem nilai. Masyarakat dapat mengetahui kemampuan individu dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Di dalam dunia kesehatan masyarakat  merupakan klien yang harus dipenuhi kebutuhan dasarnya sebagai manusia.

II.3      Peran Keluarga dalam Keperawatan
Peran Keluarga dalam keperawatan,yaitu:
    A.            Keluarga sebagai unit pelayanan yang dirawat
Keluarga dijadikan sebagai unit pelayanan karena masalah kesehatan keluarga saling berkaitan dan saling mempengaruhi antara _esame anggota keluarga dan akan mempengaruhi pula keluarga-keluarga disekitarnya atau masyarakat secara keseluruhan.
Alasan keluarga sebagai Unit Pelayanan (Ruth B Freeman, 1981)
1.      Keluarga sebagai unit utama masyarakat dan merupakan lembaga yang menyangkut kehidupan masyarakat
2.      Keluarga sebagai suatu kelompok dapat menimbulkan, mencegah, megabaikan, atau memperbaiki masalah-masalah kesehatan dalam kelompoknya
3.      Masalah-masalah kesehatan dalam keluarga saling berkaitan, dan apabila salah satu anggota keluarga mempunyai masalah kesehatan akan berpengaruh terhadap anggota keluarga lainnya
4.      Dalam memelihara kesehatan anggota keluarga sebagai individu (pasien), keluarga tetap berperan sebagi pengambil keputusan dalam memelihara kesehatan keluarganya
5.      Keluarga merupakan perantara yang efektif dan mudah untuk berbagai upaya kesehatan masyarakat

     B.            Keluarga sebagai pasien
Dalam melihat keluarga sebagi pasien ada beberapa karakteristik yang perlu diperhatikan oleh perawat, diantaranya :
      1.            Setiap keluarga memiliki cara yang unik dalam menghadapi masalah kesehatan para anggotanya
      2.            Memperhatikan perbedaan dari tiap-tiap keluarga, dari berbagi segi :
a.       Pola komunikasi
b.      Pengambilan keputusan
c.       Sikap dan nilai-nilai dalam keluarga
d.      Kebudayaan
e.       Gaya hidup
      3.            Keluarga daerah perkotaan akan berbeda dengan keluarga di daerah pedesaan
      4.            Kemandirian dari tiap-tiap keluarga

II.4      Tujuan Perawatan Kesehatan Kelaurga
Tujuan utama dalam memberikan asuhan perawatan kesehatan keluarga ada dua klasifikasi,yaitu:
A.    Tujuan umum : Untuk meningktakan kemampuan keluarga dalam memelihara kesehatan keluarga mereka sehigga dapat meningkatkan status kesehatan keluarga.
B.     Tujuan Khusus :
a.       Meningkatkan kemampuan keluarga dlam mengidentifikasi masalah kesehatan yang dihadapi oleh keluarga.
b.      Meningkatkan kemampuan keluarga dalam menanggulangi masalah-masalah kesehatan dasar dalam keluarga.
c.       Meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengambil keputusan yang tepat dalam mengatasi masalah kesehatan keluarga.
d.      Meningkatkan kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap anggita keluarga yang sakit dan dalam megatasi masalah kesehatan anggota keluarga.
e.       Meningkatkan produktifitas kelaurga dalam meningkatkan mutu hidupnya.

II.5      Perawatan Sebagai Sarana
Dalam mencapai tujuan kesehatan keluarga, asuhan keperawatan yang diberikan merupakan sarana yang diberikan untuk mencapai tujuan tersebut . hal itu sangat tergatung kepada perawat yang memberikan asuhan keperawatan yang bermutu kepada keluarga dalam mempengaruhi keluarga untuk lebih dapat mengenal dam melaksanakan tugas-tugasnya dalam bidang kesehatan.

Dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap keluarga perawat tidak dapat bekerja sendiri, melainkan bekerja secara tim dan bekerjasama dengan profesi lain untuk mencapai tujuan asuhan perawatan keluarga dalam melaksanakan asuhan keperwatan, perwat bekerja sama dengan dokter, penilik kesehatan, ahli gizi, pekerja social dan sebagainya yang bekerja sebagai tim untuk meningkatkan kesehatan keluarga.

II.6      Peran Perawat dalam Memberikan Asuhan Perawatan Keluarga
Dalam memberikan asuhan perawatan keluarga, ada beberapa peranan yang dapat dilakukan oleh perawat antara lain:
a.       Pemberian asuhan perawatan kepada anggota keluarga yang sakit
b.      Pengenal atau pengamat masalah kebutuhan kesehatan keluarga
c.       Coordinator pelayanan kesehatan dan keperawatan kesehatan keluarga
d.      Fasilitator, menjadikan pelayanan kesehatan itu mudah dijangkau dan perawat mudah dapat menampung permasalahan yang dihadapi keluarga dan membantu mencarikan jalan pemecahannya
e.       Pendidikan kesehatan, perawat dapat berperan sebagai pendidik untuk merubah perilaku keluarga dari perilaku tidak sehat menjadi perilaku yang sehat


II.7      Manfaat Perawat Bagi Masyarakat
Manfaat perawat secara umum adalah agar klien dalam hal ini masyarakat dapat mencapai  derajat kesehatan yang optimal dari pelayanan keperawatan.
Manfaat perawat bardasarkan Hierarki kebutuhan dasar manusia menurut Abraham Maslow yaitu:
1.      Kebutuhan Fisiologi
Kebutuhan Fisiologi merupakan kebutuhan primer yang menjadi syarat dasar bagi kelangsungan hidup manusia guna memelihara homeostasis tubuh. Sebagai syarat dasar, kebutuhan fisiologis ini mutlak terpenuhi. Jika tidak, ini dapat berpengaruh terhadap kebutuhan yang lain. Sebagai contoh, seseorang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan oksigen dapat mengalami ketidak nyamanan atau bahkan kematian. Peran perawat di sini adalah membantu klien memenuhi kebutuhan fisiologis mereka.
Dari peran tersebut, perawat memiliki Manfaat bagi klien yaitu agar klien dapat memenuhi kebutuhan fisiologis mereka.
2.      Kebutuhan Keselamatan dan Keamanan
Kebutuhan akan keselamatan adalah kebutuhan untuk melindungi diri dari bahaya fisik. Ancaman terhadap keselamatan seseorang dapat dikategorikan sebagai ancaman mekanis, kimiawi, termal, dan bakteriologis. Klien terkadang kurang menyadari adanya ancaman cedera di rumah sakit atau di tempat layanan kesehatan. Karenanya, perawat perlu menyadari situasi yang mungkin dapat membuat klien cedera. Perlindungan bukan hanya ditujukan untuk mencegah kecelakaan tetapi juga memelihara kebersihan dan kesejahteraan tubuh (body alignment).
Sehingga dapat memberikan manfaat bagi klien yaitu melindungi dirinya dirinya dari bahaya fisik.
3.      Kebutuhan Cinta dan Memiliki
Kebutuhan cinta adalah kebutuhan dasar yang mengambarkan emosi seseorang. Kebutuhan ini merupakan suatu dorongan saat seseorang berkeinginan menjalin hubungan yang efektif atau hubungan emosional dengan orang lain.
Kebutuahan untuk dicintai/dimiliki adalah keinginan untuk berteman, bersahabat, atau bersama-sama beraktivitas . Ini merupakan identitas dan prestise untuk seseorang. Kebutuhan dimiliki sangat penting artinya bagi seseorang yang ingin mendapatkan pengakuan. Kebutuhan dicintai dan mencintai meliputi kebutuhan untuk member dan menerima cinta serta kasih sayang, menjalani peran yang memuaskan serta diperlakukan dengan baik.
Dalam hal ini perawat memiliki manfaat yaitu agar klien merasa nyaman dalam menjalani proses pelayanan kesehatan.
4.      Kebutuhan Harga Diri
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh perawat dalam hal ini yakni dalam memenuhi kebutuhan harga diri klien . Pertama, setiap klien membutuhkan pengakuan dari orang lain. Karenanya setiap tindakan yang akan dilakukan perawat harus dikomunikasikan terlebih dahulu kepada klien. Selain itu perawat juga perlu memberikan penghargaan atas kemajuan dan kerja sama klien, sekecil apapun hasilnya. Kedua, dalam berinteraksi bersama klien, perawat harus menunjukan profesionalisme dan menempatkan klien sebagai guru sebab perawat banyak belajar dari setiap kasus dan karakteristik klien.
Dalam hal memenuhi kebutuhan harga diri kilen, perawat memiliki manfaat yaitu agar harga diri klien tidak menurun.
5.      Kebutuhan Aktualisasi Diri
Kebutuhan Aktualisasi Diri adalah tingkatan kebutuhan yang paling tinggi dan itu merupakan menurut Maslow dan Kalish. Aktualisasi Diri adalah kemampuan seseorang untuk mengatur diri serta bebas dari tekanan luar. Lebih dari itu, aktualisasi diri merupakan hasil dari kematangan diri. Tidak semua orang dapat mencapai aktualisasi diri secara utuh. Disinilah peran perawat untuk membantu klien dalam memenuhi Kebutuhan Aktualisasi Diri. Dalam hal ini perawat memiliki manfaat yaitu agar pasien memiliki motivasi atau dorongan dalam mencapai aktualisasi diri.

Manfaat perawat dapat diperoleh dari optimalisasi peran dan tanggung jawab perawat, dimana manfaat utama perawat adalah untuk meningkatkan akses dan cakupan pelayanan kesehatan  yang luas hingga pelosok tanah air. Pendekatan pelayanan kesehatan dapat dijadikan sebagai pintu masuk untuk memberikan pendidikan kesehatan melalui kontak social dan budaya untuk merubah perilaku masyarakat dalam menerapkan pola hidup sehat. Sehingga penyakit-penyakit akibat kurangnya pengetahuan dan perilaku budaya yang tidak sehat seperti gizi buruk, penyakit infeksi, kematian ibu dan bayi dapat lebih ditekankan.

v  Adapun manfaat perawat yaitu :
§  Manfaat sebagai pemberi asuhan keperawatan, yaitu dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan sehingga dapat ditentukan diagnosa keperawatan agar bisa direncanakan dan dilaksanakan tindakan yang tepat sesuai dengan tingkat kebutuhan dasar manusia.
§  Dapat memberikan konsultasi sehubungan dengan masalah atau tindakan yang dialami pasien
§  Dapat memberikan informasi mengenai masaalah kesehatan yang dialami oleh pasien
§  Dapat memberikan penyuluhan kesehatan, bagi klien, keluarga dan masyarakat
§  Dapat memberikan pelayanan kesehatan kepada klien











BAB III

PENUTUP

III.1     Kesimpulan
Adapun yang dapat disimpulkan, yaitu :
      1.            Perawat adalah seseorang (seorang profesional) yang mempunyai kemampuan,tanggung jawab dan kewenangan melaksanakan pelayanan/asuhan keperawatan pada berbagai jenjang pelayanan keperawatan.
      2.            Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
      3.            Masyarakat adalah suatu pranata yang terbentuk karena interaksi antara manusia dan budaya dalam suatu lingkungan. Masyarakat bersifat dinamis dan terdiri atas individu, keluarga, kelompok, dan komunitas yang mempunyai tujuan dan norma sebagai sistem nilai.
      4.            Peran Keluarga dalam keperawatan yaitu: Keluarga sebagai unit pelayanan yang dirawat dan Keluarga sebagai pasien
      5.            Tujuan Umum Perawatan Kesehatan Keluarga yaitu untuk meningkatkan kemampuan keluarga dalam memelihara kesehatan keluarga mereka sehigga dapat meningkatkan status kesehatan keluarga.

      6.            Perawatan Sebagai Sarana. Dalam mencapai tujuan kesehatan keluarga, asuhan keperawatan yang diberikan merupakan sarana yang diberikan untuk mencapai tujuan tersebut . hal itu sangat tergatung kepada perawat yang memberikan asuhan keperawatan yang bermutu kepada keluarga dalam mempengaruhi keluarga untuk lebih dapat mengenal dam melaksanakan tugas-tugasnya dalam bidang kesehatan.
      7.            Di dalam dunia kesehatan masyarakat  merupakan klien yang harus dipenuhi kebutuhan dasarnya sebagai manusia.
      8.            Manfaat perawat secara umum adalah agar klien dalam hal ini masyarakat dapat mencapai  derajat kesehatan yang optimal dari pelayanan keperawatan.


III.2     Saran
Dengan makalah ini diharapkan kepada pembaca agar dapat memahami pengertian dari perawat, masyarakat, serta yang lebih utama yaitu manfaat perawat.







DAFTAR PUSTAKA

Asmadi. 2005. Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran    EGC.
Alimul, Aziz. 2004. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: Salemba        Medika.
Suhaemi, Mimin Emi, Hj. 2004. Etika Keprawatan:Aplikasi Pada Praktik.  Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Damaiyanti, Mukhripah. 2010. Komunikasi Terapeutik dalam Praktik          Keperawatan. Bandung: Refika Aditama
Sheldon, Lisa Kennedy. 2009. Komunikasi Untuk Keperawatan. Jakarta: Erlangga
http://www.google.com


You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Popular Posts